Kategori: cerpen

Deathdream

Dua

Dengan susah payah aku membawa bertumpuk-tumpuk buku yang harus aku berikan pada pak Bara. Sekitar tiga puluh buku lebih dan aku harus membawanya sendiri. Bisa kau bayangkan betapa repotnya aku,bukan ? Jam di pergelangan tangan kiriku masih menunjukan jam sepuluh pagi.

Sial. Tak ada kah seorang pun yang bisa menolongku membawa buku-buku ini ?

Diantara kerepotanku, aku terusik dengan suara gaduh yang berasal dari halaman belakang sekolah yang baru saja aku lewati dan tertutupi oleh deretan kelas. Tertarik. Aku pun pergi untuk melihat siapa yang sedang berbuat onar di saat koridor begitu sepi.

“tangkep tas gue !” suara berat seseorang panik. Aku menatapnya lekat. Okeh baiklah rupanya sedang ada seseorang yang mulai merasa bosan di sekolah dan memilih hengkang sebelum jam pelajaran berakhir.

Kutarik tali tas yang hendak ia lemparkan, sebelumnya aku meletakan buku-buku menyebalkan yang kubawa terlebih dahulu di lantai.

“Siapa loe ? Lepas ! berani banget loe ?!” …Read More->

Lelaki

Langit menatap nanar pada tumpukan surat yang ada di hadapannya. Dia tahu hari ini akan segera tiba. Hari di mana dia harus kehilangan seseorang. Lagi. Entah untuk keberapa kali. Dan bodohnya lagi hal itu terjadi karena keangkuhannya.Egonya yang terlalu besar.

”Ini untuk yang terakhir kalinya aku bertanya, Kamu akan menikahi ku,kan ?” Mata berwarna coklat pekat itu sedang menatapnya intens. Sedang langit hanya mampu berdiam diri. Bahkan tatapannya malah menari-nari ke setiap penjuru toko.

Hari itu, Dia tiba-tiba hadir tanpa diketahui oleh Langit. Memang sebelumnya dia mengabarkan akan mengunjungi toko souvenir milik langit. Katanya dia hanya ingin melepas rindu setelah beberapa bulan terakhir mereka tak bertemu. Setelah insiden yang membuat hubungan mereka merenggang dan hilang komunikasi selama beberap bulan. …Read More->