<!DOCTYPE html> <html> <head> <title>Quarter Life Crisis</title> </head> <body> <h1>Quarter Life Crisis</h1> <img alt="Quarter Life Crisis" src="https://niawati.com/wp-content/uploads/2015/08/The-Quarter-Life-Crisis.png"/> </body> </html>

Quarter Life Crisis merupakan fase di mana seseorang sedang mencari jati dirinya. Quarter Life Crisis biasa di alami oleh seseorang di usia 20an. Usia 20an memang usia yang rentan, usia di mana seseorang mulai mencari jati dirinya, usia di mana seseorang dituntut untuk mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidupnya. Keputusan-keputusan yang akan menentukan kelangsungan hidupnya di masa depan.

Saya pun mengalami Quarter Life Crisis. Sedang mengalami lebih tepatnya. Akhir-akhir ini, ada beberapa keresahan-keresahan akan masa depan yang terus menghantui pikiran saya.
Ada beberapa hal yang selalu dipikirkan oleh seseorang di usia 20an,diantaranya :

  1. Akan menjadi apa saya nanti ?
  2. Dengan siapa saya akan melanjutkan hidup (menikah) ?

Kedua pertanyaan itu pun terus saja berdengung di telinga saya. Membuat saya kadang kerepotan menjawabannya. Wajar memang jika saya menanyakan hal seperti itu, saat usia saya sudah mencapai 20 tahun lebih, dan ketika saya melihat bahwa teman-teman saya sudah menjadi “orang”, sedang saya masih begitu-begitu saja. Merasakan hidup seolah-olah stagnan. Tak maju dan tak bisa mundur. Itu benar-benar menyebalkan. Saya seperti mengalami krisis identitas. Tak tahu harus berbuat apa dan tak tahu ingin melakukan apa. Hingga pada akhirnya pernyataan dari kakak saya benar-benar menyadarkan diri saya, membuat saya kembali ke dunia nyata. Membuat saya tertampar sedemikian hebat dan terus merenunginya berkali-kali.

”Pola pikir kamu salah. Selalu mikirin hal yang belum tentu terjadi, padahal hidup itu cuma perlu dijalani bukan dipikirin. Kalo pun apa yang kamu pikirin jadi kenyataan, yang penting kamu udah berani ngambil keputusan.”

Begitulah isi nasehat dari kakak saya. Saya benar­-benar tertampar oleh nasehat itu. Dalam nasehat itu, saya seperti mendapatkan sebuah jawaban yang baru saya sadari. Saat itu juga saya langsung merutuki diri saya sendiri. Kadang kita tak tahu bahwa hidup itu hanya perlu dijalani, tak perlu kita pikirkan. Karena ada sutradara kehidupan yang sudah mengatur hidup kita sedemikian rupa, kita hanya perlu berusaha dan mempasrahkan hasil usaha kita. Hanya itu. Dan kadang kita tak menyadari bahwa keresahan yang selama ini kita miliki hanyalah hasil dari pemikiran kita. Coba pikirkan kembali, bukankah nyatanya hal buruk yang kita pikirkan selama ini tak pernah terjadi ? Dan karena hal itulah yang membuat langkah kita tersendat, karena itulah kita kadang merasa hidup kita stagnan. Ya, hal itu membuat kita takut dalam melangkah, membuat kita takut melakukan sesuatu. Yang ada dipikiran kita hanya segala resiko yang akan terjadi, resiko yang takut kita menanggungnya.

download

sumber

Melakukan yang terbaik hari ini dan berhenti memikirkan masa depan

Kunci untuk menghadapi quarter life crisis adalah melakukan yang terbaik hari ini. Bukankah masa depan kita tergantung pada tindakan yang kita lakukan hari ini ?  Kita hanya perlu berusaha dan melakukan yang terbaik semampu kita hari ini. Mencoba mensyukuri kesempatan yang telah Tuhan berikan hari ini. Today is present, right ? dan berhentilah memikirkan masa depan, biarlah masa depan menjadi sebuah teka-teki bagi kita, hidup akan lebih menyenangkan dengan sebuah kejutan dan tentu akan menjadi lebih berwarna. Percayalah bahwa kita hanya perlu melaluinya, tak perlu memikirkannya.

4 Comments on Quarter Life Crisis

  1. Thanks atas sharing tentang Quarter Life Crisis-nya. saya pun sering kali mengalami hal itu, gelisah memikirkan masa depan. setelah membaca tulisan ini, saya merasa diingatkan kembali 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *