Kemarin, tepatnya tanggal 12 Oktober 2017 hari kamis lalu, aku akhirnya mendapatkan gelar kesarjanaan.

Hari itu, kami ikut larut dalam euphoria kebahagiaan, euphoria kelulusan yang sangat menyenangkan. Kami tertawa bersama ,bernyanyi bersama , berfoto dengan senyuman lebar yang seolah senyum tersebut takkan bisa hilang. Kami pun merayakannya dengan sangat semarak .

Hari itu  bahkan seolah-olah tak ada sekat antara dosen dan mahasiswanya. Hari itu hanya ada kebahagiaan yang kami tau. Tapi, hari itu juga ada sebuah perasaan yang berusaha kututupi. Ada sebyuah perasaan yang membuat ku seakan aku tak berhak untuk menikmati euphoria ini. Perasaan itu berupa ketakutan. Iya aku takut. Sejujurnya dari dulu aku selalu takut dalam menghadapi duni kerja. Dari dulu aku selalu mendapat nasihat bahwa dunia kerja itu kejam. Tak ada yang namanya teman, bahkan tak ada yang namanya keluarga jika berurusan dengann uang. Semuanya saling sikut, juga saling menjatuhkan satu sama lain. Sejujurnya aku takut membayangkan hal tersebut. Tapi, ternyata ada hal yang lebih kutakutkan dari cerita-cerita soal kejamnya dunia kerja, ketakutan yang selalui menghantuiku adalah aku takut mengannggur AKu takut takan menjadi apapun. Aku sangat takut akan hal tersebut. Dulu, Kakakku pernah berkata bahawa menjadi seorang sarjanya di desa itu memiliki tanggung jawab yang besar. Ok tak usah muluk-muluk bahwa dengan gelar sarjana kita bias mengubah tatanan masyarakat dan mampu member perubahan pada masyarakat. Untuk hal sesepele ingin menyemangati anak-anak yang memiliki mimpi dan berusaha mengejarnya saja susah.

Kadang jugdement masyarakat itu keterlaluan. Contohlah jika ada seseorang yang belum mendapat pekerjaan selama ½ tahun setelah kelulusaanya. Mereka ataua masnyarakat pasti akan member judgement atau penilaian buruk seperti “ SI A saying banget kuliah mahal-mahal, capek, malah ujung-ujunmempungnya nganggur.”  Atau malah ada judgement yang membuat seseorang yang tadinya bersemangat untuk menuntut ilmu jadi down. Contohnya “ Ga usahlah kamu sekolah tinggi-tinggi SI A aja yang kuliah mahal-mahal ujung-ujungnya nganggur. Sama aja.”

Judgement tersebut sering dilontarkan oleh-masyarakat di sekitar kita jika menemukan keada di mana seseorang yang mempunya gelar sarjana harus menganggung selama beberapa bulan. Sering,kan, kalian mendengar perkataan sepeti itu? Dan biasanya perkataan itu dilontarkan oleh ibu-ibu yang senang bergosip.

Judgement trsebut sangat menyakitkan untuk didengar mnurtku. Lebih lagi judgement tersebut mampu mengubah pola pikir seseorang yang ingin melanjutkan pendidikannya dan ingin menggapai cita-citanya secara halus, tanpa disadari. Untuk saya pribadi yang sangat ingin melihat orang-orang di daerahku memiliki pla piker dimana pendidikan itu penting, aku tak ingin judgement seperti itu terlontar dan terdengar juga kepadaku. Aku tak ingin jadi orang yang merusak persepsi masyarakat tentang pendidikan itu sendiri. Aku ingin masyarakat tahu bahwa pendidikan dan ilmu itu penting untuk siapapun.

Maka hari itu, hari dimana aku yudisium dan mendapat gelar sarjana. Aku tak berani untuk merayakannya secara berlebihan. Aku justru merasa malu. Malu jika sampai aku tak bias menggunakan gelar dan ilmuku dengan baik. Aku justru merasa gelar ini harus aku pertanggungjawaban . Dan aku tak berhak untuk  terlalu berlebihan dalam merayakannya, jika aku belum mampu mempertanggung jawabkan nya. Sebut saja jika aku terlalu kolot dalam menikmati hidup. Tapi, itulah aku. Semoga gelar dan ilmu ku bias bermanfaat. Baik untuk diriku sendiri maupun untuk orang lain. Semoga. Aamiin…

 

IMG-20171012-WA0001

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *